Jumat, 24 Desember 2010

Gempa Mentawai

Gempa Mentawai
Kamis, 16 Desember 2010, 14:25 WIB
Wartakota



Kerusakan akibat tsunami di Kepulauan Mentawai (
Gempa 7,2 Skala Richter yang menggoyang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 25 Oktober lalu memutarbalikkan fakta mengenai peringatan dini tsunami.
Gempa berayun dan tidak terlalu kuat itu ternyata diikuti gelombang tsunami setinggi 14-15 meter dengan kecepatan 800 km/jam.

Pusat gempa di lepas pantai Mentawai ini sebelumnya luput dari perhatian peneliti lokal maupun nasional. Tipe gempa Mentawai pada 25 Oktober 2010 ini menjadi pelajaran baru bahwa gempa tidak merusak pun bisa mendatangkan tsunami.

Kondisi ini ini memang di luar perkiraan karena sebelumnya semua orang fokus untuk memperhatikan pusat gempa di darat dan pusat gempa yang tak jauh dari daratan dengan tipe menghentak merusak bangunan.
Gempa yang diiringi tsunami di Mentawai berpusat di kedalaman 10 km dan berlokasi di 3,61 Lintang Selatan (LS) - 99,93 Bujur Timur (BT) atau 78 km barat daya Pagai Selatan, Mentawai.
Gempa ini dinilai unik berdasarkan hasil penelitian pakar gempa. Gempa ini tergolong tipe berayun dan durasinya terjadi cukup panjang. Normalnya, gempa dengan durasi 30 detik kekuatannya sama dengan 7 SR. Saat gempa Mentawai, durasi gempa melebihi waktu normal atau lebih dari 30 menit dan hal itu menurut sama dengan gempa berkekuatan 8 SR.

Terjadinya tsunami juga di luar perkiraan karena getaran gempanya kecil sehingga tidak merusak pemukiman penduduk.
Kejadian gempa dan tsunami Mentawai menjadi pelajaran mitigasi penanganan bencana ke depan.

Dari kejadian ini ketua pun menilai sistem peringatan dini tsunami perlu dievaluasi kembali untuk meminimalisir korban saat terjadi bencana serupa. Early Warning System berbasis masyarakat lokal akan digali untuk menyempurnakan sistem terpusat yang ada saat ini.

Saat tsunami menghantam empat kecamatan di Mentawai (Pagai Utara, Pagai Selatan, Sikakap, Sipora Selatan) pusat informasi bencana Sumbar telat mengetahui kejadian tersebut. Bahkan alat peringatan dini tsunami yang terpasang di Sumbar tidak bereaksi apa pun memberikan signal tanda bahaya.

Pelajaran yang berharga bagi mitigasi bencana usai tsunami Mentawai yakni kemampuan warga menyelamatkan diri meskipun tsunami terjadi kurang dari 15 menit pasca gempa. Kearifan lokal masyarakat Mentawai menyelamatkan diri dari terjangan tsunami menjadi kajian pemerintah melakukan mitigasi.

Ini merupakan pelajaran besar buat masyarakat karena tsunami terjadi tidak hanya karena gempa besar dan merusak atau air laut surut saja tapi perlu disempurnakan kembali.
Kejadian ini akan membuka pemikiran baru bahwa peringatan tidak bisa dilakukan secara terpusat. Masing-masing kabupaten perlu memperkuat sistem peringatan bencana yang terintegrasi dengan sistem nasional. Di Sumbar, sistem peringatan bersifat lokal sedang diupayakan penyelesaiannya.

Saat ini, para ahli dan pemerintah daerah sedang berkumpul di BMKG Jakarta melakukan evaluasi dan koordinasi penyempurnaan sistem peringatan tsunami.
Tsunami Kuak Keberadaan Kapal Kuno Mentawai
Kapal kuno itu berisi keramik China. Agar tak dijarah, lokasi penemuan kapal dirahasiakan.
RABU, 15 DESEMBER 2010, 11:32 WIB
Elin Yunita Kristanti


Gempa 7,2 skala Richter yang diikuti tsunami pada Senin 25 Oktober 2010 di Mentawai tak hanya menewaskan ratusan jiwa, bencana itu juga menguak situs sejarah yang lama terpendam.

Pasca tsunami, nelayan Mentawai di perairan Pagai Selatan menemukan sebuah kapal kuno. Diduga berasal dari abad pertengahan.

Diduga, kapal kuno yang berisi keramik dan kendi-kendi khas China ini terseret arus bawah tsunami.

masyarakat belum bisa memastikan kapal ini dibuat pada abad keberapa, tapi dari foto-foto kendi yang kita terima, dipastikan ini peninggalan kuno,
Kapal kayu ini ditemukan dalam keadaan cukup baik dengan panjang mencapai 20 meter, lengkap dengan tiang utama. Lokasi pasti kapal tersebut ditemukan masih dirahasiakan untuk menghindari penjarahan.

Kapal kayu ini berada pada kedalaman 18 meter dekat Pulau Sandiang, Pagai Selatan.

Sebelumnya, nelayan Mentawai yang biasa melakukan penyelaman ke dasar laut di areal kapal kuno ini, tidak menemukan adanya bangkai kapal.

Kondisi ini yang menguatkan masyarakat bahwa kapal ini terseret arus bawah tsunami. DKP Sumbar telah meminta DKP Mentawai untuk mengamankan lokasi penemuan kapal kuno ini untuk menghindari penjarahan.

Bahkan, untuk sementara, daerah laut tempat penemuan kapal kuno ini disterilkan dari aktivitas nelayan. DKP Sumbar telah meminta tim dari pusat untuk melakukan penelitian terhadap bangkai kapal yang ditemukan di perairan Mentawai pasca tsunami.

Masyarakat sudah memberitahukan bahkan ada pula yang menelepon langsung ke Jakarta agar tim segera turun meneliti kapal ini.

Menurut hasil penelitian sejumlah pakar gempa dan tsunami dari LIPI serta ahli dari Jepang, kecepatan tsunami yang menghantam Mentawai mencapai 800 km/jam. Jangankan kapal kayu kuno, tsunami juga menyeret terumbu karang raksasa. Dari penelitian, tsunami mencapai ketinggian 14-15 meter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar