Senin, 28 Januari 2013

Jurnal Ilmiah (Metode Riset)


        NAMA      : TUTI HANDAYAN
KELAS      : 3EA13
NPM          : 19210344

TEMA : Faktor yang Dapat Berpengaruh Terhadap Minat Tenaga Kerja Untuk Bekerja ke Luar Negri

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

            Perbedaan model pembangunan ekonomi yang diterapkan sebagai  pembawa konsekuensi (di dalam negeri) pada pesatnya peningkatan pendapatan  sebagian penduduk yang memiliki akses pada pembangunan ekonomi berhadapan  dengan sebagian besar penduduk yang bertambah miskin akibat tidak memiliki akses pembangunan ekonomi tersebut (Tjiptoherijanto, 1997: 2). Kondisi  sebagaimana digambarkan di atas, pernah secara meyakinkan dikemukakan oleh  Kusnetz, bahwa pada tahap-tahap awal dari proses pembangunan ekonomi suatu  negara, akan menyebabkan distribusi pendapatan penduduk semakin memburuk.  Dampak domino dari ketimpangan kesempatan kerja dan pendapatan seperti itu  adalah timbulnya arus migrasi penduduk dari daerah-daerah miskin menuju pusat- pusat pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan pertumbuhan antar wilayah ekonomi,  sosial dan kultural semacam itu, juga telah dialami oleh Indonesia sejak  pemerintahan Orde Baru mencapai perkembangan ekonomi yang relatif maju  pada periode Repelita ke V yakni sekitar tahun 1994. Sejak periode tersebut arus  perpindahan penduduk terutama dari desa ke kota dan daerah lainnya, terus  meningkat sepanjang tahun (Tjiptoherijanto, 1997: 2).
            Penelitian ini berpusat pada salah satu komponen demografi yang  disebutkan oleh Bogue (1969) di atas, yakni tentang migrasi penduduk atau  tepatnya perpindahan tenaga kerja sementara waktu ke luar negeri, yang lazim  disebut migrasi sirkuler, yakni sebuah konsepsi yang membedakannya dengan  migrasi permanen (perpindahan penduduk menetap di suatu daerah atau  perpindahan permanen). Selama ini sudah banyak bukti yang menunjukkan  bahwa, migrasi penduduk antar daerah pada umumnya disebabkan oleh terjadinya  ketimpangan regional baik yang bersumber dari perbedaan kondisi demografis,  budaya maupun model pembangunan ekonomi yang diterapkan (Zelinsky, 1971;  Titus, 1978, Tjiptoherijanto, 1997, dan Nasution, 1998 dalam Wirawan, 2006)
            Demikian pesat perkembangan kota-kota di Pulau Jawa khususnya,  sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari migrasi desa ke kota, maka  sangatlah beralasan jika perhatian para peneliti dan pemerintah saat itu masih  terpusat pada masalah-masalah migrasi di dalam negeri (migrasi internal). Migrasi  internasional tenaga kerja Indonesia baru manjadi pusat perhatian serius berbagai  pihak dalam dekade terakhir, karena banyaknya permasalahan tenaga kerja ini,  baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang mulai terangkat ke permukaan. 
            Indonesia adalah salah satu sumber tenaga kerja yang terbesar di dunia.  Salah satu penyumbang tenaga kerja yang cukup besar adalah Provinsi Jawa  Tengah (Jawa Tengah dalam Angka, BPS 2008). Di provinsi ini, kehidupan  sebagai petani sawah dirasakan tidak lagi menjanjikan bagi masyarakatnya. Untuk  bekerja di sektor lain pun sudah susah untuk diperoleh. Oleh karena itu, wajar kiranya daerah ini menjadi salah satu daerah di Indonesia menjadi sumber tenaga kerja untuk pergi ke luar negeri.
            Hal yang sama juga dilakukan oleh tenaga kerja yang bermigrasi ke luar  negeri untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Sebagai  salah satu jalan menyalurkan kelebihan tenaga kerja di dalam negeri, Indonesia  sejak beberapa dekade yang lalu telah mengirimkan angkatan kerja  ke negara- negara seperti ke Timur Tengah dan Asia (Timur dan Tenggara). Walaupun sudah  lama mengirimkan tenaga kerja ke beberapa negara, selama ini data tentang pasar  tenaga kerja belum cukup tersedia secara memadai. Banyak tenaga kerja yang  pergi ke berbagai negara tujuan tanpa memiliki informasi ketenagakerjaan yang  memadai. Calon tenaga kerja seringkali mengalami kesulitan baik menyangkut  ijin dan hubungan kerja, kemigrasian dan masalah sosial, ekonomi, politik dan  hukum di negara tujuan. Pengiriman tenaga kerja juga seringkali dimanfaatkan  oknum yang ingin mencari keuntungan yang berpeluang membawa masalah bagi tenaga kerja itu sendiri maupun bagi negara tujuan dan perwakilan RI di negara-negara tujuan migrasi.


1.2  Perumusan Masalah
            Persoalan pertumbuhan penduduk merupakan faktor yang penting dalam  rangka pencapaian kesejahteraan rakyat. Kebijaksanaan pemerintah dalam rangka pelaksanaan sangat dipengaruhi oleh persoalan pertambahan penduduk sehingga masalah tersebut berkaitan dengan pegelolaan kebutuhan dasar rakyat yaitu, kebutuhan akan sandang, pangan, dan permukiman. Berdasarkan jumlah penduduk adanya angkatan kerja yang meningkat dan mengharuskan bertambahnya kesempatan kerja yang luas. 
            Berdasarkan latar belakang masalah dan uraian di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah banyaknya jumlah tenaga kerja yang belum tertampung oleh lapangan pekerjaan yang tersedia dalam negeri khususnya, yang mengakibatkan pengangguran terbuka meningkat tiap tahunnya (data BPS tahun 2004-2008). 
            Tenaga kerja yang belum dapat tertampung di dalam negeri, dapat mencari pekerjaan di luar daerah asal (dalam negeri),  jika di luar daerah asal (dalam negeri) masih belum dapat menampung, maka alternatif lainnya adalah bekerja ke luar negeri. Dimana  jumlah tenaga kerja yang bekerja di luar negeri asal masih belum maksimal, dan kesempatan untuk bekerja ke luar negeri masih begitu besar, dibandingkan dengan jumlah lapangan kerja dan jumlah pengangguran terbuka

1.3  Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka dapat diketahui tujuan penelitian yaitu :
1)      Menganalisis pengaruh umur terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negri
2)      Menganalisis pengaruh status pernikahan terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negri
3)      Menganalisis pengaruh pekerjaan responden di daerah asal terhadap minat tenaga kerja untuk bekrja ke luar negri
4)      Menganalisis pengaruh pendidikan terakhir terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negri
5)      Menganalisis pengaruh jumlah tanggungan terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negri
6)      Menganalisis pengaruh pendapatan yang diperoleh terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negri



1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dari penelitian ini adalah :
1)      Dapat memberikan masukan dan informasi kepada pihak pembuat kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan mengenai pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.
2)      Dapat memberikan sumbangan pikiran bagi pemerintah agar meningkatkan kualitas sumber daya manuasia agar dapat bersaing dengan negara lain
3)      Sebagai referensi yang mudah dipahami bagi peneliti dibidang yang sama. Sehingga dapat mengembangkan penelitian ini lebih lanjut.


BAB II
TEORI

2.1 Landasan Teori
            2.1.1 Teori Migrasi
            Dalam arti luas, migrasi merupakan perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen (Tjiptoherijanto, 1999). Dalam pengertian yang demikian tersebut tidak ada pembatasan baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya, serta tidak dibedakan antara migrasi dalam negeri dengan migrasi luar negeri (Lee, 1991). Sejarah kehidupan suatu bangsa selalu diwarnai dengan adanya migrasi, dan oleh karena itu pula terjadi proses pencampuran darah dan kebudayaan. Teori migrasi mula-mula diperkenalkan oleh Ravenstein (1885) dan kemudian digunakan sebagai dasar kajian bagi peneliti lainnya (Lee,1966; Zelinsky,1971  dalam wirawan, 2006). Kedua peneliti mengatakan bahwa motif utama yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi adalah alasan ekonomi. Mantra, (1999) menyebutkan bahwa beberapa teori yang mengungkapkan mengapa orang melakukan mobilitas, diantaranya adalah teori kebutuhan dan stres. Setiap individu mempunyai beberapa macam kebutuhan ekonomi, sosial, budaya, dan psikologis. Semakin besar kebutuhan tidak dapat terpenuhi, semakin besar stres yang dialami. Apabila stres sudah melebihi batas, maka seseorang akan
berpindah ke tempat lain yang mempunyai nilai kefaedahan terhadap pemenuhan kebutuhannya. Perkembangan teori migrasi demikian dikenal dengan model stress-treshold atau place-utility. Model ini bertitik tolak pada konsep yang juga digunakan Keban (1994) dan Susilowati (1998; 2001).
            Selain itu, konsep teori pilihan sebagaimana dikemukakan Becker  (1968) juga digunakan untuk mengetahui motivasi seseorang dalam memutuskan bekerja di luar negeri. Dalam hal demikian, individu dianggap sebagai makhluk sosial rasional dalam menentukan pilihan. Umumnya individu akan menerapkan konsep prinsip ekonomi dalam usaha memilih beberapa alternatif terbaik dan memberikan manfaat terbesar dan kerugian atau risiko yang terkecil. Jika dikaitkan dengan teori di atas maka para migran dapat digolongkan sebagai individu rasional dalam kepergiannya untuk bekerja di luar negeri. Hal ini dikarenakan
alasan faktor ekonomis seperti: mencari pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan kemudahan lain serta berbagai alasan non-ekonomis lainnya misalnya aspek sosial, budaya, politik, keamanan, dan psikologi. Selain model tersebut, terdapat model yang dikembangkan oleh Speare (1975). Migrasi tenaga kerja juga dipengaruhi oleh faktor struktural seperti karakteristik sosio-demografis, tingkat kepuasan terhadap tempat tinggal, kondisi geografis daerah asal dan karakteristik komunitas. 
            Pada umumnya adanya ketidakpuasan pada latar belakang yang berdimensi struktural mempengaruhi seseorang melakukan migrasi. Daerah yang lahan pertaniannya tandus umumnya masyarakatnya mencari pekerjaan ke daerah lain yang lebih subur atau banyak peluang ekonominya khususnya pada sektor non-pertanian misalnya industri, perdagangan, dan jasa. Dalam cakupan yang lebih luas, masyarakat atau tenaga kerja pada suatu negara akan melakukan migrasi ke negara lain yang perekonomiannya lebih baik yang mampu menawarkan peluang kesempatan kerja dengan penghasilan yang lebih baik.
            Teori pengambilan keputusan bermigrasi di tingkat individu dari perspektif geografi yang berpengaruh kuat dalam analisis-analisis migrasi pada era 1970-an hingga menjelang awal tahun 1990 an, adalah teori yang diajukan oleh Everett S. Lee (1970). Berdasarkan teori migrasi Lee, faktor terpenting setiap individu dalam melakukan migrasi adalah faktor individu itu sendiri. Faktor individu memberikan penilaian apakah suatu daerah dapat memenuhi kebutuhannya atau tidak. Rintangan antara dapat berupa biaya pindah yang tinggi, topografi daerah dan juga sarana transportasi.




          2.1.2   Faktor Pendorong dan Penarik dalam Migrasi
 
            Menurut Milan J. Titus (1982) dalam Tatik Mariyanti (2004) dalam Wirawan 2006, mengatakan bahwa faktor-faktor daya tarik yang positif orang bermigrasi adalah :


Ø  Kesempatan kerja yang terdapat dalam sektor :
a.       Sektor pertnian (tidak termasuk pertanian pangan tradisional, meliputi kolonisasi agraris, perkebunan rakyat) contoh Sumatera Utara yaitu mengenai rehabilitasi perkebunan, sedangkan Lampung dan Kalimantan Tengah yaitu Transmigrasi
b.      Sektor Ekstraktif : terutama tambang minyak, dan usaha  memperoleh kayu. Contoh : Kalimantan Timur, Riau,  sumatera Utara, dan Selatan yaitu minyak tanah, bauksit, dan kayu.
c.       Sektor sekunder dan tersier, terutama di kota-kota yang  telah bertambah dengan cepat.

Ø  Tingkat pendapatan regional perkapita
Ø  Atraksi Kota
Ø  Faktor Intuisi-intuisi sosial
Ø  Keresahan sosial

            Rozy Munir dalam Dasar-dasar Demografi (1981), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi ada dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.
  Faktor pendorong misalnya :
a.       Makin berkurangnya sumber-sumber alam
b.       Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal,  akibatnya masuknya teknologi yang menggunakan mesin- mesin
c.       Adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku, di  daerah asal 
d.      Tidak cocok lagi dengan adat budaya/kepercayaan di daerah asal.
e.       Alasan pekerjaan atau perkawinan yang menyebabkan tidak  bisa mengembangkan karier pribadi.
f.       Bencana alam baik banjir, kebakaran musim kemarau atau adanya wabah penyakit.

            Sedangkan menurut Everett S. Lee (1976) dalam Ida Bagoes Mantra (1985), ada empat faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi:
a.       Faktor yang terdapat di daerah asal
b.      Faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan
c.       Rintangan-rintangan yang menghambat atau rintangan-rintangan antara daerah asaln dan daerah tujuan
d.      Faktor-faktor pribadi atau individu


          2.1.3   Pengertian Tenaga Kerja
 
            Menurut Aris Ananta dan Tjiptoherjanto (1990), tenaga kerja adalah sebagian dari keseluruhan penduduk yang secara potensial dapat menghasilkan barang dan jasa. Dengan kata lain, tenaga kerja adalah bagian penduduk yang dapat menghasilkan barang dan jasa bila ada permintaan akan barang dan jasa tersebut.
            Sedangkan menurut Payaman Simanjuntak (2001), tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah dan sedang bekerja, sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Pencari kerja, bersekolah dan mengurus rumah tangga, walaupun tidak bekerja, mereka dianggap secara fisik mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja. Tenaga kerja terdiri dari angkata kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang ingin dan yang benar-benar menghasilkan barang dan jasa (BPS, 2008).
Angkatan kerja terdiri dari:
1.      Golongan yang bekerja
2.      Golongan yang menganggur dan mencari kerja
Sedangkan kelompok yang bukan angkatan kerja terdiri dari :
1.      Golongan yang bersekolah
2.      Golongan yang mengurus rumah tangga
3.      Golongan lain-lain atau yang menerima pendapatan
Angkatan krja yang digolongkan bekerja (BPS,2008) adalah :
1.      Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekrjaaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keutungan yang lamanya bekerja paling sedikit satu jam selama seminggu yang lalu
2.      Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahana tidak melakukan pekerjaan atau bekerja kurang dari satu jam adalah :
a.       Pekerja tetap, pegawai-pegawai pemerintah atau swasta yang sedang tidak masuk kerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir ataupun perusahaan menghentikan kegiatan sementara
b.      Petani-petani yang mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena menunggu hujan untuk menggarap sawah
c.       Orang-orang yang bekerja di bidang keahlian seperti dokter, tukang cukur, dalang, dan lain-lain

Angkatan kerja yang digolongkan menganggur dan sedang encari  pekerjaan (BPS, 2007):
1.      Mereka yang belum pernah bekerja pada saat sedang berusaha mendapatkan pekerjaan
2.      Mereka yang pernah bekerja pada saat pencacahan, sedang menganggur dan berusaha mencari pekerjaan
3.      Mereka yang dibebastugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan

           2.1.4  Teori-Teori Pengambilan Keputusan Bermigrasi

 Dalam hal ini dapatlah ditunjukkan beberapa teori yang mengacu pada paradigma ekonomi, misalnya :
1)      Teori Neoclassical Economic Macro yang menjelaskan perpindahan para pekerja dari negara yang kelebihan tenaga kerja dan kekurangan modal menuju ke negara yang kekurangan tenaga kerja tetapi memiliki modal besar (Massey, dkk., 1993; 1998 dan Hugo, dkk., 1996 dalam Wirawan, 2006).
2)      Teori Neoclassical Economic Micro, yang menyarankan kepada para migran potensial agar dalam pengambilan keputusan bermigrasi mempertimbangkan biaya dan keuntungan perpindahan ke daerah tujuan yang memiliki potensi lebih besar dibandingkan daerah asalnya (Massey, 1993:434 dalam Wirawan, 2006) Teori lainnya yaitu,
3)      Teori Segmented Labour Market yang menyatakan, bahwa pekerja melakukan migrasi karena ditentukan oleh tingginya permintaan pasar kerja di negara lain (Todaro, 1997; Massey, dkk, 1993; dan Abella, 1999 dalam Wirawan, 2006). Dalam teori ini faktor ketertarikan pasar atas migrasi tenaga kerja jauh lebih dominan dibandingkan dengan faktor tekanan untuk berpindah oleh sebab lain dari daerah asal. Beberapa ahli telah membuktikan hal ini, bahwa kesempatan kerja yang luas di luar negeri menyebabkan tingginya permintaan terhadap pekerja migran tanpa skill dari pada faktor lain (Miller, 1995;Hugo, 1995c; dan Chin, 1997 dalam Wirawan, 2006

2.2   Penelitian Terdahulu

            Penelitian terdahulu yang dipergunakan dalam penyusunan usulan penelitian
ini adalah sebagai berikut:

·                     Susilowati et al. (2001), Analisis Masalah Sosial, Politik dan Ekonomi pada Migrasi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri , Lokasi : Dilakukan di Indonesia (negara asal) maupun Malaysia dan dan Brunei (negara tujuan) Tujuan: Menganalisis masalah sosial, politik dan ekonomi pada migrasi TKI ke luar negri
            Data adalah data primer melalui wawancara pada kuesioner yang telah distandarisasi, Teknik sampling  dengan multi-stage sampling, Alat analisisnya adalah model regresi Logit Binary dan Multinomial
            Variabel penelitian : variabel dependen yaitu niat bermigrasi ke luar negeri  - variabel         independen yaitu sosialekonomi, latar belakang struktural,  nilai kegunaan tempat.
            Model penelitian : Model: MIGRATE = f(AGE, MARRY, OCCEDUC, NODEPI,           STAYM; OWNSAWAH, INCM, FERTIL, JOBMANY, FREQBAC ceterisparibus)
            Hasil penelitian : TKI yang cenderung berkeinginan untuk menetap di negara tujuan          adalah TKI yang sudah lama tinggal di negara tujuan, dan TKI yang sering pergi       pulang ke negara asal. Sedangkan mereka yang sudah kawin dan yang berpendapata n           tinggi cenderung untuk tidak menetap

·                     Waridin (2002), Jurnal Ekonomi Pembangunan (JEP) Vol.3, No2, Desember 2002: 111130  Beberapa faktor yang mempengaruhi migrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, Tujuan: Menganalisis beberapa faktor yang mempengaruhi TKI untuk bermigrasi dan bekerja di luar negeri
                        Data adalah data primer melalui wawancara pada kuesioner yang telah        distandarisasi, Teknik samplingdeng an multi-stage sampling. Alat analisisnya        adalah model regresi Logit Binary dan Multinomial untuk mengidentifik asi          profil sosialekonomi dan inventarisasi terhadap permasalahan calon TKI 
            Variabel penelitian : variabel dependen yaitu niat bermigrasi ke luar negeri -            variabel independen yaitu sosialekonomi, latar belakang struktural
            Model penelitian : Model: MIGRATE = f(AGE, MARRY, OCCI, EDUC, NODEPI,        STAYM OWNSAWAH, INCM, JOBMANY, FREQBACK, cetris paribus)
            Hasil penelitian : Migasi keluar yang dilakukan oleh seseorang dapat disebabkan    oleh faktorfaktor sosial, ekonomi dan politik. Faktor sosial yang mempengar uhi        niat      TKI untuk melakukan migrasi dan bekerja secara menetap ke luar negeri            adalah lama tinggal di negara tujuan
. 

·                     Waridin et al. (2007) Penelitian Hibah bersaing Pengembangan Model Manajemen dan Bimbingan yang Terintegrasi dalam peningkatan Mutu dan Kompetensi TKI pada Pasar Tenaga Kerja di Luar Negeri, Lokasi: Kabupaten Kendal dan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Tujuan: Model Manajamen dan Bimbingan yang terintegrasi bagi TKI, PJTKI dan Institusi yang terkait dalam pengiriman TKI ke luar negeri
            Data adalah data primer melalui wawancara pada kuesioner yang telah distandarisasi, Teknik sampling  dengan multistage sampling, Alat analisisnya adalah model logit binary alat analisis statistika deskriptif dan analisis mendalam
Variabel penelitian : variabel dependen yaitu niat bermigrasi ke luar negeri - variabel independen yaitu sosialekonomi, latar belakang struktural
Model penelitian : Model: MIGRATE = f(AGE, MARRY, OCCI, EDUC, NODEPI, STAYM OWNSAWAH, INCM, JOBMANY, FREQBACK, ceterisparibus)
Hasil penelitian : Dari beberapa variabel ekonomi yang diduga berpengaruh terhadap minat  seseorang untuk melakukan migrasi antara lain adalah faktor pendapatan dan kemudahan mencari pekerjaan.  Migasi keluar yang dilakukan oleh seseorang dapat disebabkan oleh faktorfaktor sosial, ekonomi dan politik  

2. 3  Kerangka Pemikiran Teoritis

            Menurut Adam Kuper dan Jessica Kuper (2000), perpindahan tenaga kerja sesungguhnya mencerminkan adanya ketimpangan distribusi ruang dan redistribusi kesempatan ekonomi di suatu kawasan atau negara. Keputusan untuk berpindah, didasarkan pada hasil perbandingan antara tempat asal dengan berbagai daerah tujuan yang memiliki peluang lebih besar dan lebih menguntungkan. Pendidikan dan pelatihan, hubungan patron, jenis kelamin adalah variabel utama yang mempengaruhi kesempatan yang disediakan oleh pasar tenaga kerja di daerah lain. Selanjutnya, umur, dukungan kekerabatan, dan akses sumber daya terutama penguasaan tanah serta berbagai faktor lain, sangat menentukan pertimbangan untung - ruginya sebuah keputusan berpindah (lihat: Kuper, dan Kuper, 2000: 543).
            Banyak faktor yang menjadi bahan pertimbangan calon TKI untuk bermigrasi ke luar negeri. Maka kerangka pemikiran analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

            Berdasarkan teori migrasi Lee, faktor terpenting setiap individu dalam melakukan migrasi adalah faktor individu itu sendiri, faktor individu memberikan penilaian apakah suatu daerah dapat memenuhi kebutuhannya atau tidak ( Everett S. Lee, 1970 dalam Wirawan, 2006). Di dapatkankan enam variabel faktor individu yang dikembangkan dari penelitian Susilowati (2001) dan Didi Purnomo (2005), serta dari Theory of Migration Everett S. Lee (1970) dalam Wirawan 2006

2. 4   Hipotesis

            Hipotesis adalah penjelasan sementara yang harus diuji kebenarannya mengenai masalah yang diteliti, dimana hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang dihubungkan dua variabel atau lebih (J. Supranto, 2001). pekerjaan migran Pendapatan yang diperoleh Hipotesis merupakan suatu porsi yang mungkin benar dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan atau pemecahan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Anggapan atau asumsi dari suatu hipotesis juga merupakan data, akan tetapi kemungkinan bisa salah, maka apabila akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan harus diuji dahulu dengan menggunakan data hasil observasi (J. Supranto, 2001).
            Dari hasil deduksi teoritik dan rumusan kerangka konseptual penelitian sebagaimana dipaparkan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Faktor umur diduga berpengaruh terhadap minat TKI bekerja ke luar negri
2.      Faktor status pernikahan diduga berpengaruh terhadap minat TKI bekerja ke luar negri
3.      Faktor pekerjaan migran di daerah asal diduga berpengaruh terhadap minat TKI bekerja ke luar negri
4.      Faktor pendidikan terakhir diduga berpengaruh positif terhadap minat TKI bekerja ke luar negri
5.      Faktor jumlah tanggungan keluarga diduga berpengaruh positif terhadap minat TKI bekerja ke luar ngeri
6.      Faktor pendapatan yang diperoleh responden per bulan di daerah asal diduga berpengaruh negatif terhadap minat TKI bekerja ke luar negri



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1   Variabel Penelitian dan Definisi Oprerasional
            Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel independent adalah suatu variabel yang ada atau terjadi mendahului variabel dependen. Keberadaan variabel ini dalam penelitian ini merupakan variabel yang menjelaskan terjadinya fokus dan topik penelitian. Definisi operasional merupakan definisi yang diberikan kepada variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikan kegiatan atau memberikan operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut (Nasir, 1999). Variabel yang digunakan adalah:
           
            3.1.1   Variabel Tak Bebas (Variabel Dependen)

            Adalah variabel yang besarannya dipengaruhi oleh variabel lain. Di dalam penelitian ini digunakan minat migrasi sebagai variabel tidak bebas. Minat migrasi menunjukkan minat tenaga kerja untuk bermigrasi sementara ke luar negeri guna bekerja. Skala pengukuran berupa skala dummy; 1=berminat dan 0=tidak berminat.
           
            3.1.2   Variabel Bebas (Variabel Independen)

            Adalah variabel yang besarannya tidak tergantung pada variabel lain. Sebagai variabel  bebas digunakan:
1.      Umur (X1) : usia responden diukur dengan skala kontinyu (tahun)
2.      Status pernikahan (X2) : status pernikahan responden diukur dengan skala dummy (1=menikah; 0=belum menikah/cerai)
3.      Pekerjaan Migran (X3) : pekerjaan responden sebelumnya di daerah asal, diukur dengan skala dummy (1=pernah bekerja (min 1 tahun) atau 0=belum pernah bekerja)
4.      Pendidikan (X4) : pendidikan formal yang pernah dicapai oleh responden sesuai dengan ijazah yang dimiliki diukur dengan skala kontinyu
5.      Jumlah tanggungan (X5) : jumlah orang/anggota keluarga yang menjadi tanggungan di daerah asal, diukur dengan skala kontinyu (jumlah orang)
6.      Pendapatan darah asal per bulan (X6) : pendapatan yang diperoleh


3.2  Populasi  

            Menurut Suharyadi dan Purwanto (2003), populasi adalah sebuah kumpulan dari semua kemungkinan orang-orang, benda-benda, dan ukuran lain dari obyek yang menjadi perhatian (Husaini, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah responden yang sedang mencari kerja (membuat surat AK1) sebagai syarat mencari pekerjaan di Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kota Semarang jalan Ki Mangunsarkoro no. 21 Semarang, baik laki laki maupun perempuan pada periode tanggal 22 Juni 2010 sampai pada tanggal 5 Juli 2010 pada hari dan jam kerja.

3. 3  Jenis dan Sumber Data

            Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Suharsimi,
1998). Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
            3.3.1   Data Primer 
 
             Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya(Sutrisno Hadi, 2000). Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari wawancara mendalam (indepth interview) terhadap masyarakat yang menjadi responden. Sehingga dapat mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi minat tenaga kerja untuk bekerja di luar negeri.

            3.3.2   Data Sekunder
 
            Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya, seperti mengutip dari buku-buku, literatur, bacaan ilmiah, dan sebagainya yang mempunyai relevansi dengan tema penulisan (Sutrisno Hadi, 2000). Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dipilih dalam kurun waktu 2004 sampai 2008. 

3. 4   Metode Pengumpulan Data

            Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan sensus. Sensus adalah
cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diteliti satu per satu
(Sugiyono, 2006).

3. 5   Alat Pengumpulan Data Primer

            Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah: Kuesioner: jumlah yang ditanyakan kepada responden sebanyak 12 pertanyaan yang berisi pertanyaan–pertanyaan tentang minat responden untuk bermigrasi ke luar negeri.

3. 6 Metode Analisis
         
            Secara umum analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan satu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen, dengan tujuan untuk mengestimasi dan memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui. Pusat penelitian adalah pada upaya menjelaskan dan mengevaluasi hubungan antara satu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen (Gujarati, 1997). Data pada penelitian menggunakan skala yang berbeda yaitu skala dummy dan skala kontinyu. Data campuran ini dapat disebut sebagai data tersensor. Metode yang disarankan untuk data tersensor adalah metode regresi tobit. Penggunaan regresi tobit / regresi tersensor pada data campuran atau mixture akan mengurangi efek bias jika dibandingkan dengan data yang diolah menggunakan regresi linier klasik. Hal ini dikarenakan data yang bernilai nol (data diskrit) dapat diolah secara bersama dengan data kontinyu sehingga tidak akan kehilangan informasi yang berasal dari data diskrit. Pemilihan model tobit sebagai teknik analisis dikarenakan: (1) variabel dependen bersifat kualitatif. (2) Agar dapat menganalisis variabel dimana responden tidak dapat menjawab. (3) bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dalam model penelitian (Gujarati, 1995).


            3.6.1 Tobit Model

                        Untuk determinan dan analisis faktor yang mempengaruhi minat
            tenaga kerja Indonesia untuk bekerja ke luar negeri, Model matematis  
             Y = a+ ß1 x1+ ß2 x2 + ß3 x3 + ß4 x4+ß5x5+ß6x6+e...........................(2)
            Dimana:
                        Y         = Minat Migrasi
                        X1       = Umur
                         X2      = Status Pernikahan
                         X3      = Status Pekerjaan
                        X4       = Pendidikan Terakhir 
                         X5      = Jumlah Tanggungan
                         X6      = Pendapatan yang diperoleh
                        α          = konstanta
                        ei          = residual model yang mengikuti distribusi normal tersensor
                        β1-6        = nilai koefisien dari masing- masing variabel independen 

                        Model tobit mengakomodasikan dari pemilihan sampel (sample selection) yang menggunakan dua bagian formula untuk memprediksikan variabel tak bebas yaitu memprediksikan nilai dimana variabel tak bebas adalah nol (limited) sedangkan yang lain tidak nol (unlimited). 

3. 7   Prosedur Analisis
           
            Prosedur dalam manganalisis data pada penelitian ini sebagai berikut: 

            3.7.1   Pengujian Estimasi Parameter

            Untuk menguji parameter, uji yang digunakan adalah uji Wald dan Likelihood Ratio           (LR). Uji Wald dan LR test sering digunakan untuk uji dalam model tobit (Robinson,    Bera and Jarque, 1985 dalam layli, 2006). Langkah-langkah dalam uji koefisien             regresi adalah.
1.      Likelihood Ratio Test (Uji G) 
                        Uji serentak digunakan untuk menguji parameter hasil dugaan secara bersama                     sama. Hipotesa yang digunakan:
                         Hipotesis :
                        H0 : ß1= ß2 =....= ßk = 0
                        H1 : Paling tidak terdapat satu ßj ≠ 0
                        Statistik uji : 
                        G = -2 ln (L
                        Dimana :  L1 = Likelihood tanpa variabel independen tertentu
                                        L0 = Likelihood dengan variabel independen tertentu
                        Statistik uji ini mengikuti distribusi chi-square dengan derajat bebas
            yaitu banyaknya parameter dalam model sehingga kesimpulan yang dapat
            diambil: H0 diterima jika uji G = χ2 a,k berarti tidak satupun ßj yang mempunyai peran terhadap model.

2.      Uji Wald
                        Uji ini dilakukan untuk menguji setiap ßj secara individual untuk                             menunjukkan apakah suatu variabel bebas layak untuk masuk dalam
            Hipotesa yang             digunakan:
                        H0 : ßj = 0
                        H1 : ßj ≠ 0
            Statistik uji:
            W2=B2j/Se (Bj2)
            Di mana :
            Se (Bj2)                        = varian
            Bj2                    = nilai koefisien dugaan variabel independen
                        W2  mengikuti distribusi X2 sehingga keputusan didasarkan pada H0            diterima jika _w2 X2 α berarti βj mempunyai peran terhadap model.

            3.7.1  Justifikasi Statistik
                       
                        Analisis regresi dengan model Tobit dipakai untuk menentukan  minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri. Koefisien parameter dari masing–masing variabel operasional dalam model (ßi) dapat diuji nilai signifikasinya dari nilai t-rasio masing–masing guna menentukan faktor yang secara statistik mempengruhi variabel  dependennya (minat migrasi).
Untuk menguji signifikasi dari variabel yang diamati maka dapat dilakukkan jika nilai t-rasio yang dihitung lebih besar dari nilai t-tabel maka dikatakan bahwa nilai variabel independen yang diamati secara statistik adalah signifikan mempengaruhi variabel dependennya. Setelah
semua variabel diuji signifikasinya maka dapat diinterpretasikan makna statistiknya. Analisis ini kemudian  dihubungkan dengan teori yang berlaku, apakah sudah sesuai dengan teori yang berlaku

            3.7.2   Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

            Uji statistik t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Imam Ghozali, 2005). Untuk  menguji pengaruh variabel independen terhadap dependen secara individu dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :.
1.      H0 : β1  ≤ 0, yaitu tidak pengaruh dari variabel umur terhadap variabel minat migrasi
H1 : β1  > 0, yaitu terdapat pengaruh positif dari variabel umur terhadap variabel minat              migrasi
2.      H0 : β2  ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh dari variabel pendidikan terhadap variabel minat              migrasi
H1 : β2  > 0, yaitu terdapat pengaruh negatif pendidikan terhadap variabel minat                        migrasi
3.      H0 : β3 ≤ 0, yaitu tidak ada perbedaan dari variabel status pernikahan terhadap variabel             minat migrasi
H1 : β3 > 0, yaitu terdapat perbedaan variabel status pernikahan terhadap variabel                      minat migrasi
4.      H0 : β4 ≤ 0, yaitu tidak ada perbedaan dari variabel kondisi pekerjaan migran terhadap              variabel minat migrasi
H1 : β4 > 0, yaitu terdapat perbedaan dari variabel kondisi pekerjaan migran terhadap                variabel minat migrasi
5.      H0 : β5 ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh dari variabel jumlah tanggungan terhadap                         variabel minat migrasi
H1 : β5 > 0, yaitu terdapat pengaruh positif variabel jumlah tanggungan terhadap variabel minat migrasi
6.      H0 : β6 ≤ 0, yaitu tidak ada pengaruh dari variabel pendapatan terhadap variabel minat              migrasi
H1 : β6 > 0, yaitu terdapat pengaruh negatif variabel pendapatan terhadap variabel                    minat migrasi
            Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan statistik t, dimana nilai t hitung dapat diperoleh dengan formula sebagai berikut :
T hitung =  ............................................ (8)
            Di mana :
            Βj            = koefisien regresi
            Se (βj)  = standard error koefisien regresi
                       
            Di mana ßj adalah koefisen regresi dan se (ßj) adalah standar error koefisien regresi. Uji t ini dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Apabila t hitung > t tabel, maka hipotesis alternatif diterima yang menyatakan bahwa variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen. Sebaliknya apabila t hitung < t tabel maka variabel independen secara individual tidak mempengaruhi variabel dependen.


BAB IV
HASIL ADAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian

          4.1.1 Keadaan Geografis
          Kota Semarang terletak antara garis 6050,  - 70 10,  Lintang Selatan dan garis 109035, - 110050, Bujur Timur.  Dibatasi oleh Kota Kendal di sebelah Barat, Kota Demak di sebelah Timur, Kabupaten Semarang di sebelah Selatan, dan Laut Jawa di sebelah Utara dengan panjang garis pantai meliputi 13,6 Km. Ketinggian Kota Semarang terletak antara 0,17 sampai dengan 348,00 di atas garis pantai (BPS, 2008).

          4.1.2 Luas Penggunaan Lahan

            Secara administratif, Kota Semarang terbagi atas 16 wilayah Kecamatan dan 117 kelurahan. Luas wilayah Kota Semarang tercatat 373,70 Km2. Luas yang ada terdiri dari 39,56 Km2 (10,43 persen) tanah sawah dan 334,14 Km2 (89,57 persen) bukan tanah sawah. Menurut penggunaannya, luas tanah sawah terbesar merupakan tanah sawah tadah hujan (53,12 persen) dan hanya sekitar 19,97 persen yang dapat ditanami dua kali dalam setahun (BPS, 2008).

          4.1.3 Keadaan Demografis

            Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2008, jumlah penduduk Kota Semarang tercatat sebesar 1.481.640 jiwa. Dengan pertumbuhan penduduk tahun 2008 sebesar 1,61 persen. Kondisi tersebut memberi arti bahwa pembangunan kependudukan, khususnya usaha untuk menurunkan jumlah kelahiran memberi hasil yang nyata (BPS, 2008). Sekitar 74 persen penduduk Kota Semarang berumur produktif (15-64  tahun), sehingga angka beban tanggungan, yaitu perbandingan antara penduduk usia produktif dangan penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) pada tahun 2008 sebesar 26 persen yang berarti 1 orang usia produktif menanggung 26 orang usia tidak produktif (BPS, 2008).

TABEL 4.1 BANYAKNYA PENDUDUK MENURUT KELOMPOK USIA DAN JENIS

KELAMIN DI KOTA SEMARANG TAHUN 2004-2008

Kelompok Usia
Laki-laki
Perempuan
Total
0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65+
26.392
60.628
61.849
59.806
62.760
79.438
73.917
71.343
60.084
51.891
42.556
28.105
16.363
40.325
25.359
57.913
59.913
57.772
61.137
78.668
75.235
73.112
63165
54.113
40.592
26.588
19.000
53.606
51.751
118.514
121.761
117.578
123.896
158.106
149.152
144.466
123.250
106.007
83.148
54.695
35.363
93.930
Total       2008
                2007
                2006
                2005
                2004
735.457
772.026
705.627
695.676
684.705
746.183
732.568
713.851
703.457
693.488
1.481.640
1.454.594
1.419.478
1.399.133
1.378.193

Sumber: Statistics of Semarang City,BPS 2009


            Dalam kurun waktu 5 tahun (2004-2008), lihat Tabel 4.1, kepadatan penduduk cenderung naik seiring dengan kenaikkan jumlah penduduk. Di sisi lain, penyebaran penduduk di masing-masing Kecamatan belum merata. Di wilayah Kota Semarang tercatat Kecamatan Pedurungan sebagai wilayah terpadat, sedangkan di wilayah Kecamatan Tugu kepadatannya paling rendah (BPS, 2008). Banyaknya penduduk Kota Semarang per Kecamatan tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:

TABEL 4.2
JUMLAH PENDUDUK KOTA SEMARANG PER KECAMATAN
TAHUN 2004-2008

Kecamatan
Laki-laki
Perempuan
Total
Mijen
Gunungpati Banyumanik
Gajah Mungkur
Smg. Selatan Candisari
Tembalang Pedurungan
 Genuk
Gayamsari
Smg. Timur
Smg. Utara
Smg. Tengah
Smg. Barat
Tugu
Ngaliyan
23.875
41.492
56.799
30.627
42.892
39.905
61.802
79.763
38.471
34.401
40.208
60.878
36.092 
78.687
17.174
52.408
23.276
31.700
57.709
30.434
42.715
40.639
60.493
80.730
38.725
35.208
41.944
64.879
38.075
 79.848
13.280
52.407
47.154
73.192
114.508
61.061
85.607
80.554
122.295
160.493
77.196
69.609
82.152
125.757
74.167
158.535
30.454
104.815



Total          2008   2007
2006
2005
2004
735.457 
772.026
705.627
695.676
684.705
746.183
732.568
713.851
703.457
693.488
1.481.640
1.454.594
1.419.478
1.399.133
1.378.193
Sumber: Kota Semarang Dalam Angka, 2009

            Dari Tabel 4.2 di atas, dapat dilihat komposisi penduduk pada tahun 2008 pada 16 Kecamatan yang ada di Kota Semarang, jumlah penduduk perempuan lebih besar dari jumlah penduduk laki-laki. Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan tertinggi terdapat di 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Pedurungan dan Kecamatan Semarang Barat. Sehingga kepadatan penduduk tertinggi juga terdapat di 2 kecamatan tersebut.

          4.1.4 Keadaan Ekonomi
TABEL 4.4 ANGKATAN KERJA DI KOTA SEMARANG
TAHUN 2004-2008
                                   
Tahun
Bekerja
Mencari Pekerjaan
Jumlah
2004
97.458
85.565
184.023
2005
98.256
99.564
196.820
2006
99.235
112.363
221.598
2007
101.855
120.258
222.113
2008
132.213
121.013
253.226
Sumber: Keadaan Angkatan Kerja di Kota Semarang, 2009 – BPS,

            Menurunnya pertumbuhan produksi beberapa sub sektor industri manufaktur,terutama industri pengolahan barang kayu berakibat pada rendahnya kemampuan industri manufaktur untuk menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi masalah pengangguran (sumber: BPS,2008). Data orang yang telah bekerja mengalami kenaikkan tiap tahunnya (dari tahun 2004-2008). Pada tahun 2008, penduduk yang bekerja mengalami kenaikan sebesar 30.358 orang (Lihat Tabel 4.4) dari tahun 2007 yang hanya sebesar 101.855 orang, sementara pertumbuhan pencari kerja atau dengan kata lain pengangguran terbuka  telah mencapai 121.013 orang di tahun 2008. Jumlah tersebut terus naik dari tahun ke tahun.  Jumlah pencari kerja pada tahun 2004 sudah mencapai 85.565 orang dari jumlah angkatan kerja. Bahkan pada tahun 2006, tingkat pengangguran terbuka telah mencapai 112.363 orang dari angkatan kerja. Kenaikan harga BBM diperkirakan menjadi penyebab banyaknya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) terutama di industri padat karya dan usaha kecil yang mengakibatkan
jumlah pengangguran makin meningkat pada tahun 2004.

4.2       Analisis Data
          4.2.1 Karakteristik Responden   
          Penelitian terhadap calon tenaga kerja  yang membuat  kartu AK1 mendapatkan responden tersebar dari berbagai wilayah di Kota Semarang, antara lain: (Lihat Tabel 4.6).

Tabel 4.6
Daerah Asal Tenaga Kerja Responden (n=100)
No
Asal Kecamatan
Jumlah Responden
1
Mijen
4
2
Gunung Pati
12
3
Banyumanik
7
4
Gajah Mungkur
3
5
Smg Selatan
6
6
Candisari
0
7
Tembalang
4
8
Pedurungan
5
9
Genuk
4
10
Gayamsari
11
11
Smg Timur
6
12
Smg Utara
13
13
Smg Tengah
4
14
Smg Barat
21
15
Tugu
0
      Sumber: Data primer yang diolah, 2010

            Dilihat dari umurnya, sebanyak 68 persen calon tenaga kerja migran yang menjadi responden dalam penelitian ini berusia antara 20 sampai 29 tahun ( Lihat Tabel 4.7 ). Hal seperti ini dimungkinkan mengingat usia pada rentang tersebut merupakan usia yang produktif untuk bekerja. Selain itu mereka juga mempunyai motif untuk memperoleh pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih baik daripada yang mereka dapatkan di daerah asal. Jenis kelamin dari calon tenaga kerja juga didominasi oleh kaum wanita yakni sebesar 56 persen. Hal ini didorong oleh keinginan mereka beremansipasi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga daripada mereka hanya menjadi ibu rumah tangga. Dilihat dari tingkat pendidikannya, lebih dari separoh (80 persen) calon tenaga kerja responden merupakan tenaga kerja yang hanya berpendidikan SLTA, 7 persen berpendidikan diploma dan 13 persen berpendidikan sarjana.
            Secara keseluruhan dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa kebanyakan tenaga kerja mempunyai tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Tingkat pendidikan yang tinggi ini diduga akan berpengaruh terhadap kemauan dan keterampilan yang dimiliki tenaga kerja yang bekerja di luar negeri, yang berakibat pada kesempatan di dalam memasuki jenis pekerjaan yang ada. 
            Alasan responden yang berminat bekerja ke luar negeri adalah ingin mendapatkan pengalaman serta ilmu baru dan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi di bandingkan di daerah asalnya.  Responden yang berminat untuk bekerja di luar negeri umumnya memilih negara-negara tujuan di Asia seperti China, Jepang dan Korea dengan alasan bahwa negara tersebut dekat dengan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah walaupun dengan nominal gaji yang lebih kecil. 




          4.2.2    Analisis Regresi
            Untuk mengestimasi Faktor Yang Mempengaruhi Minat Tenaga Kerja Untuk Bekerja Ke Luar Negeri digunakan paket Eviews 6.0 diperoleh hasil estimasi model Tobit sebagai berikut:
TABEL 4.12
HASIL PERSAMAAN REGRESI

Coefficient
z-Statistic
Prob.
C
4.110248
2.718018
0.0066
X1
-0.358244
-3.818644
0.0001
X2
-0.222113
-0.442608
0.6580
X3
1.913851
3.590393
0.0003
X4
0.389852
1.920753
0.0548*
X5
0.401945
2.663878
0.0077
X6
-0.510600
-2.046990
0.0407

            Sumber: Lampiran B data diolah, 2010  
signfikan pada tingkat alpha 5%. *
signifikan pada alpha 10%
            Dari hasil estimasi, Faktor Yang Mempengaruhi Minat Tenaga Kerja Untuk Bekerja Ke Luar Negeri variabel yang mempengaruhi adalah variabel Umur (prob.0,0001), Pekerjaan responden (Prob.0,0003), Jumlah Tanggungan (Prob. 0,0077), Pendidikan (Prob. 0.0548*), Pendapatan (Prob. 0,0407), secara statistik pada alpha 5% dan (*) alpha 10%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap minat migrasi. Sedangkan variabel penjelas lainnya menunjukkan keadaan yang tidak signifikan

          4.2.3   Uji t
            Untuk menguji pengaruh masing-masing variabel digunakan uji t sedangkan untuk R2
 dan uji F sudah tidak berlaku lagi atau invalid (White J. K. et.al Dalam Indah Susilowati, 1999). Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat). Uji t dilakukan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel maka Ho di tolak atau sebaliknya. Jumlah responden yang menjadi sampel penelitian sebesar 100 sampel dengan 29 orang responden berminat untuk bekerja ke luar negeri dan 71 orang tidak berminat bekerja ke luar negeri. Kemudian tingkat keyakinan ( a) di tetapkan sebesar 0,05 dan degree of freedom (dF) dengan rumus (n-k-1)= 60, sehingga dapat pada tabel Uji t, nilai t-tabel sebesar 1,658, pembanding t-ratio

4.3   Interpretasi Hasil
            Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil:
1.      Umur
            Dari hasil uji statistik umur  signifikan terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri (Prob. 0,00010) dan bertanda negatif. Menjelaskan bahwa umur seseorang menjadi patokan orang tersebut ingin dan mampu untuk bekerja ke luar negeri, dimana menunjukkan bahwa minat responden yang berumur lebih muda lebih tertarik dibandingkan responden yang berumur lebih tua. Karena usia muda lebih produktif daripada usia tua.

2.      Status Pernikahan
            Dari hasil uji statistik status pernikahan tidak signifikan (prob.0,6580) dan bertanda negatif  terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri. Menjelaskan bahwa adanya perbedaan antara orang yang telah menikah dan orang yang belum menikah, dimana responden dengan status menikah maupun belum menikah dapat menentukan pilihan ingin atau tidak bermigrasi atau bekerja di luar negeri.
3.      Pekerjaan Responden
            Dari hasil uji statistik pekerjaan responden signifikan (Prob.0,0003) dan bertanda positif terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri. Menjelaskan perbedaan antara orang yang pernah bekerja dan belum pernah bekerja, dimana orang yang pernah
pekerjaan berarti telah memiliki pengalaman kerja dengan kemapuan dan ketrampilan yang telah diasah saat bekerja. Namun pada penelitian ini, meniliti responden yang sedang mencari pekerjaan, hal ini menunjukkan bahwa para tenaga kerja ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih dapat mensejahterakan dirinya maupun keluarga, dan peluang untuk bekerja ke luar negeri terbentang luas dengan adanya pengalaman kerja di daerah asal. 
4.      Pendidikan terakhir
            Dari hasil uji statistik tingkat pendidikan terakhir signifikan (Prob.0,0548*) dan bertanda positif terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri, dimana responden dengan pendidikan tinggi lebih tertarik dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah. Hal ini dikarenakan dengan pendidikan tinggi (Diploma, Sarjana) mendapatkan posisi atau pekerjaan yang lebih baik dari pada bekerja di daerah asal. Dengan perhitungan posisi pekerjaan yang sama di daerah asal namun berbeda jumlah gaji yang diperoleh.
5.      Jumlah Tangungan Keluarga
            Dari hasil uji statistik jumlah tanggungan keluarga sedapur responden signifikan (prob. 0,0077) terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri, menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah tanggungan maka semakin besar minat untuk bekerja ke luar negeri guna dapat mecukupi kebutuhannya. Dikarenakan jumlah pendapatan yang diperoleh didaerah asal yang tidak dapat mencukupi kebutuhan maka kemungkinan mendapatkan gaji besar dengan bekerja di luar negri
6.      Pendapatan yang Diperoleh
            Dari hasil uji statistik pendapatan yang diperoleh responden tiap bulannya berpengaruh signifikan (prob.0,0407) terhadap minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri. Hal ini dikarenakan semakin besar pendapatan seseorang maka semakin kecil minat bekerja ke luar negeri dibandingkan dengan seseorang yang berpendapatan rendah. Dengan bekerja ke luar negeri diharapkan mendapatkan penghasilan yang lebih besar


BAB V
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian dalam Bab 4, maka dalam Bab 5 ini ada 3 (tiga) hal pokok yang dapat disimpulkan. Pertama, adalah kesimpulan umum yang merupakan hasil penelitian sebagai hasil pengujian hipotesis untuk menjawab pertanyaan penelitian, sedangkan hal kedua,  merupakan saran-saran untuk tindak lanjut. Sesuai dengan permasalahan, teori yang membingkai penelitian ini, hipotesis, dan hasil pembahasan yang telah diuraikan dalam Bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari temuan empirik dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1.      Dari beberapa variabel-variabel yang dihipotesiskan, variabel independen yang mempengaruhi minat tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri, ternyata hanya variabel Umur (prob.0,0001), Pekerjaan responden (Prob.0,0003), Jumlah Tanggungan (Prob.0,0077), Pendidikan (Prob.0.0548*) Pendapatan (Prob. 0,0407) yang memberi pengaruh secara signifikan terhadap minat responden untuk bekerja ke luar negeri. 
2.      Dari uji likelihood ratio diketahui bahwa variabel status pernikahan tidak memiliki peran atau pengaruh terhadap vaiabel dependen dan memiliki peran adalah variabel umur, pekerjaan responden, pendidikan, jumlah tanggungan, pendpatan, sedangkan pada  uji wald disimpulkan bahwa keseluruhan dari variabel independen memiliki pengaruh/peran terhadap data dalam model tobit.
3.      Dari hasil penelitian, responden yang berminat untuk bekerja ke luar negeri sebesar 20 orang dan yang tidak berminat adalah 80 orang. Dengan demikian masih kecilnya minat tenaga kerja asal Kota Semarang yang berminat bekerja ke luar negeri.

5.2   Saran
            Menyadari bahwa, penelitian yang dilaksanakan ini tidak terlepas dari keterbatasan-keterbatasan, maka dalam kesempatan ini disarankan kepada pihak yang berkompeten untuk mengkaji lebih seksama beberapa pokok persoalan yang ternyata luput dari kerangka pemikiran penelitian ini. Adapun saran yang bisa direkomendasikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa probabilitas ( a=5%) tertinggi tenaga kerja yang berminat bekerja ke luar negeri yaitu faktor pendapatan yang diperoleh tiap bulannya di daerah asal, sehingga perlu dipertimbangankan solusi untuk mengatasi faktor tersebut, antara lain, perlu untuk mempertimbangkan penyesuaian upah minimum antara kota besar dengan upah minimum, untuk memperkecil arus tenaga kerja bekerja ke luar negeri, serta dapat menyediakan atau menciptakan lapangan pekerjaan
2.      Pengaruh pendidikan terhadap migrasi ke luar negeri yang menunjukkan pengaruh yang positif yang berarti bila makin tinggi jumlah orang yang berpendidikan SLTA ke atas maka akan mempengaruhi peningkatan migrasi ke luar negeri. Oleh karena itu diharapkan pemerintah dapat menyediakan peluang dan kesempatan kerja dengan spesifikasi yang dapat menampung orang-orang yang berpendidikan SLTA ke atas, sehingga ketimpangan pasar tenaga kerja yang dapat menyebabkan terjadinya arus migrasi yang terpolarisasi pada daerah/negara yang sudah berkembang dapat ditekan. Perlu diperhatikan pula untuk pemerintah Kota Semarang agar dapat menciptakan keuntungan dan keunggulan berdasarkan market based dan resurces based yang tersedia sehingga aliran investasi dan pembangunan dan distribusi pendapatan disetiap daerah dapat dimanfaatkan secara optimal








Tidak ada komentar:

Posting Komentar